Friday, June 12, 2009

Serantai Bait Tentang Kongres HMI ke- XXVII


-- mungkin di tulisan ini ada goresan-goresan kisah yang tak sempat terexpose media, saya bagi menjadi tiga episode--

" Pada akhirnya segala lelah, marah, sedih, kecewa, terlupakan oleh bait asa....mari bangkit!"

Tentang Kongres dua puluh tujuh...
Ini kongres pertamaku. Bagi pengurus cabang Purwokerto, sebagian besar juga merupakan pengalaman pertama. Kata orang cinta pertama itu tak mudah dilupa. Benar, kongres ini juga menumbuhkan cinta pada alat prjuangan ini. Sebagai sebuah gelaran dwitahunan, yang memiliki hierarkri paling atas dalam struktur kekuasaan di HMI. tak berlebihan rasanya jika kita mengharap sebuah perubahan dalam paradigma gerakan yang lebih baik. HMI yang lebih baik...itu bukan sekedar harapan namun keHARUSan.
Tulisan ini saya tulis dengan segala kisah kecil yang mungkin tak terekspoxe oleh media.

Ratusan kader, ratusan harap, itu idealnya. Ratusan ide brilian siap berkumpul dan sinergis untuk memantapkan gerakan.
Sidang pendahuluan menjadi peluit panjang dimulainya pertempuran itu. Namanya orang mo olahraga..harus pemanasan dulu. Kalo berenang gak pemanasan dulu, ntar kram di tengah kolam. Kalo mo sprint gak pemanasan terlebih dulu ntar bisa cedera juga. Harapannya juga seperti itu. Waktu itu di benak saya adalah teman-teman seluruh Indonesia telah menyiapkan konsep perubahan HMI. Makanya saya juga pernah menyinggung "pernak-pernik" HMI yang belum diterima oleh cabang-cabang. Hal ini sangat riskan karena akhirnya di meja sidang, kita semua hanya bermain emosi dan egoisme saja. Lebih banyak menuntut daripada menyampaikan sebuah pemikiran.
LPJ PB..dalam sessi tanya jawab yang lebih banyak bergulir dan ramai hanyalah seputar hal-hal teknis seperti : telpon, email, dll. Ditambah lagi jawaban PB yang lebih bersifat apologi. Ketika saya menanyakan SK, sbrnnya itu sederhana saja, kapan teman-teman PB siap untuk memberikan dokumen resmi Sk para cabang. Kalau malam itu bisa, tinggal ketik, print, dan tandatangan, saya rasa itu menjadi bentuk rasa tanggungjawab PB. BUkan berapologi dengan sejuta alasan apalagi dengan alasan komputer kena virus. Suer, kalo kisah ini diexpose akan sangat memalukan. Saat ini hampir sebagian besar cabang, tidak memiliki dokumen resmi SK kepengurusan. Ini sangat-sangat fatal. Ini bukan persoalan teknis, tapi persoalan tanggungjawab akan kinerja masing-masing. Walaupun kongres sudah usai, saya berharap tanggungjawab ini bisa diselesaikan dengan secepatnya.

.

Sessi tanya jawab yang bergulir lebih kepada penggugatan secara teknis yang itu diakibatkan oleh miscommunication saja. Masalah pemecatan Itho Murtadha, dana diknas, dan lain-lain. Hampir lebih dari separuh waktu di sessi tanya jawab itu, dipenuhi oleh emosi dan egoisme cabang-cabang tertentu saja. Kebetulan waktu itu yang bersuara lebih banyak adalah teman-teman cabang timur dan utara. Bukan saya mendiskreditkan teman-teman di intra dan intim, namun kenyataan yang terjadi di arena kongres adalah, teman-teman lebih banyak berputar di wilayah teknis dan memainkan emosi. Mungkin ini juga menjadi salah satu akibat dari tidak optimalnya pembagian draft kongres pada sleuruh cabang. Pada akhirnya, draft kongres dari TPK tidak digunakan dan ditolak. Ketika tidak ada draft, masalah yang muncul ternyata ada tiga versi konstitusi dari Semarang, Jogja, Makasar. Padahal draft dr TPK itu telah disusun lebih dari dua bulan dan mengakomidir perbedaan2 konstitusi tersebut. Lagi-lagi permasalahannya pada komunikasi antara Roni HIdayat (Koord.TPK) dengan Bang Madjid Bati (MSO). MSO merasa tidak pernah menerima permohonan amandemen, padahal TPK telah melakukan itu secara prosedurial, dihibungi melalui telpon, dikirm melalui email, dll. Lagi-lagi yang jadi alasan adalah, email yang eror dan tidak ada data draft kongres yang diterima. Miris !!!!!!!!!!!

Pembahasan konstitusi, sebenarnya merupakan sessi penting dalam perjalanan sebuah organisasi. Dari jauh-jauh hari sebelumnya, di benak saya tergambar bahwa teman-teman kader HMI selruh Indonesia telah mempersiapkan ide-ide briliant-nya mengenai paradigma gerakan organisasi ini. Mungkin masih ingat mengenai ide rekonsiliasi yang pernah saya getol tulis? Itu bukan sekedar isu sesaat, namun coba saya kaji dari berbagai segi, historis, filosofis, sosiologis, politis,dan teknis. Saya tambah bersemangat lagi ketika tau ada ide ganti nama yang akan coba digulirkan. Bagi saya, semua ide itu sungguh-sungguh. Jujur saja, saya sudah mempersiapkan uraian kenapa kita jangan ganti nama dan harus rekonsiliasi, dengan segala alasan yang dapat diuji secara keilmuan (ada power point-nya.. dibuat sampe nglembur di sekre Mafaza ..he3). Sebenarnya hal ini harusnya disampaikan pada sebuah lokakarya, karena kongres hanya bersifat memutuskan saja. Tapi karena lokakarya tak pernah kunjung ada, ya maka kucoba persiapkan untuk kongres.
Tapi, semua tinggal kisah belaka. Karena ternyata teman-teman cabang lain tidak pernah mencoba membuat sebuah inovasi gerakan untuk disampaikan di kongres. Bahkan saya sempat berfikiran ini adalah sebuah kesengajaan untuk meminimalisir perdebatan mengenai konsep, sehingga pada akhirnya yang terjadi adalah berputar-putar pada hal redaksional yang bersifat teknis.
Jujur aja, hari kedua, pembahsan AD membuat bete banget! Bertambah bete, karena melihat kenyataan bahwa ternyata sebagian besar peserta kongres justru meninggalkan ruang sidang hanya untuk konsolidasi suksesi calon ketum. Hati saya begitu marah saat itu!!! Segala umpatan berkecamuk dalam batin! Apa-apaan ini???? Forum kongres yang membahsa hal-hal mendasar malah ditinggalkan untuk sebuah suksesi. Lucu lagi, ketika salah satu kawan bilang : " Bagi kita, AD ART dan yang lainnya tidak perlu dibahas, tidak ada yang salah, yang penting..siapa nanti yang akan jadi ketum, siapa nanti pemimpinnya" .
Weleh..weleh. .. ini nieh efek dari generasi "Idol". Di kongres ini kita menghimpun mimpi, ide, dan segala potensi untuk memperkuat pondasi gerakan. Mimpi kita saja sudah tak punya, pondasi kita sudah bobrok, dipimpin oleh siapapun , akan ttap hancur. Akhirnya semua menjadi ekspresi syahwat kekuasaan belaka.

Tentang Pemilihan Formatur...
Siapapun tak bisa menampik, secara kapabilitas, Mas Chozin sangat pantas menjadi ketum PB HMI. Jangankan menjadi ketum PB, jadi presiden Indonesia pun mas chozin pantas. Dengan segala potensi yang dia miliki, saya rasa Mas Chozin adalah salah satu kader yang dapat kita banggakan di HMI.
Namun, HMI adalah sebuah organisasi perkaderan dan perjuangan. Kaderisasi adalah pondasi organisasi berlambang perisai hijau hitam ini. HMI bukan organisasi jaringan atau profesional, walaupun karya-karya kita harus disalurkan dengan kemampuan jaringan dan profesionalitas.
Maka, yang menjadi pertanyan, apakah kita yang memang sudah lelah dengan perkaderan di HMI ini, atau mas Chozin yang sudah mati orientasi kekaryaan beliau sehingga masih melihat posisi ketum PB sebagai pijakan???!. Tapi hal itu biar menjadi pertanyaan di hati kita masing-masing.

Munculnya nama mas chozin sebagai calon ketum bukan sebuah hal yang baru. Kalau tidak terexpose, mungkin itu sengaja. Dukungan teman-teman indonesia timur dan utara menjadi kekuatan utama dari naiknya mas choz di pentas kongres kemarin. Secara psikologis, wajar kalo teman-teman intim dan intra menaruh harap pada sosok yang juga menjadi moderator di milis HMI ini.
Selain teman-teman intra dan intim, bagbar juga menjadi sayap yang sangat mendukung naiknya sang alumnus Ohio- USA ini. Kondisi psikologis teman2 intra dan intim yang masih kecewa dengan kepengurusn PB kemarin dilengkapi dengan kultur pragamtisme dalam politiknya teman-teman inbagbar. Saya rasa ini gk bisa dielakan oleh siapapun. Sialahkan membela diri tapi kenyataan berkata demikian, pragmatisme adalah kultur yang sudah melekat di sebagian besar teman-teman bagian barat. Fitnah dan gosip murahan kadang dijadikan alat untuk mencapai keinginan. Entah fitnah apa saja yang sudah diberikan kepada calon ketum lain selain chozin.
Kalau memang tidak begitu, coba saja tanya, apakah mereka punya konsep untuk membangun HMI ini lebih baik. Nonsens! Mereka hanya punya strategi politik. Konseptual yang dibangun hanya berputar pada wacana. Sebenarnya potensi politik mereka baik jika dapat dikembangkan dan tetap diarah yang benar. BUkan dengan menghalalkan segala cara. Karena HMI juga bukan organisasi politik.

Inbagteng yang kuat dengan intelektualnya juga harus mengakui ketidaksolidan- nya. Dari dulu mungkin orang2 tengah yang terlalu polos dengan politik. Keilmuan dan keIslaman itulah yang kemudian menjadi pilar gerakan di bagian ini. Kemarin sebenarnya cukup kuat ketika dalam dukungan ke Azwar, walaupun agak terlambat mengkonsolidasikan gerakan. Bagian tengah juga dianggap yang "menggembosi" kinerja PB dua tahun yang lalu. Astaghfirrulah, masih ada yang tega menganggap seperti itu. Padahal kalau kita tengok, siapa saja yang kemudian berperan membangun pondasi kinerja PB selama dua tahun kemarin. Dari mulai pleno I, II, III, event2 yang ada di PB, melakukan fungsi-fungsi komisi dengan baik, kebanyakan juga teman-teman tengah. Mas Azwar, mas uud, mas trisno, sampai mbah Muhyidin, semua menjadi martir dalam perjuangan kemarin walaupun pada akhirnya semua tertutup oleh pola komunikasi yang buruk oleh Ketum. Namun, bang Syahrul juga bukan tak berusaha sebaik mungkin. Di kesempatan kali ini, (walau sudah saya sampaikan di kongres kemarin juga), saya menyatakan terimakasih dan sangat salut , apresiasi yang sangat tinggi untuk kinerja teman2 tengah yang ada di PB. Kalau kemarin ada penolakan LPJ itu murni sebagai sebuah pembelajaran untuk berusaha ke yang lebih baik. Kalau kita menerima,juga atas dasar yang kuat, bukan semata-mata karena ada orang2 bagian kita yang ada disana. Dukungan kita bukan sebatas pada penerimaan dan penolakan LPJ, tapi perhatian kita yang penuh.
Ups, agak ngelantur ya. Kembali tentang calon ketum PB. Sebenarnya saya udah speechless. Mo bilang apa? Semua terjadi karena emosional saja.
Mas Chozin secara konstitusi tidak sah untuk maju menjadi calon formatur. Beliau LK I pada tahun 1997, Sudah hitungan tahun ke-12 menjadi kader..dan itu berarti sudah alumni. Hal ini sudah disampaikan di kongres. Mengenai ayat kedua di konstitusi ttg peraturan masa keanggotaan, mas Chozin saat ini tidak menjabat apa-apa dalam kepengurusan di HMI. Kalau ada di HMINews, beliau adalah direksi PT.Kapisentra, bukan bagian dari HMI.
" Kenapa nggak ngomong di kongres kemarin shin?"
Ya, itu dia yang saya sesalkan hingga saat ini. Bukan saya nggak berani ngomong, tapi memang suasana saat itu sudah diliputi emosi. Adzan Shubuh sudah memaksa semuanya untuk menyudahi perdebatan. Ketika saya kembali dari sholat shubuh, ternyata semua sudah berkahir. Keterlambatan ini sangat saya sesalkan hingga pulang ke Purwokerto. Secara tidak langsung, saya dan konstituent kongres telah mengkhianati konstitusi kita sendiri. Padahal baru semalam kita mengesahkan konstitusi, berdebat mengenai contents yang ada dalam pedoman perkaderan, keanggotaan, dll.
Di kongres pertama ini, saya baru merasakan kesungguhan dan kecintaan yang penuh pada HMI. Saya rasa semua kader akan merasa sedih dan kecewa atas adanya inskonstitusional ini, jika mereka memang bersungguh-sungguh membangun pondasi gerakan ini.
Saya pun masih yakin mas chozin dan cabang Sleman tak pernah punya niat untuk mematikan perkaderan. Kalau katanya ada kabar untuk mematikan hegemoni sebuah golongan tertentu di kampus UGM, ya semoga mereka menganggap bahwa cara menaikkan mas Chozin di ketum PB menjadi cara yang terbaik. Walaupun dulu di awal saya bilang, " Tanpa menjadi ketum PB, mas Chozin dapat berkontribusi banyak di HMI".

Mungkin Agak lebai kalau tau , ada air mata yang sempat menetes di beberapa kader yang menyesalkan pemilihan formatur ini. Menangis karena matinya perkaderan, dan menangis karena tak dapat berbuat banyak. Namun karena perkaderan pula, kita harus bangkit.

Kemenangan mas Chozin juga tidak mutlak. Bahkan selisih dengan mas Azwar hanya sedikit (tiga suara). Lucunya lagi, ada sms tak dikenal kepada saya dengan mengatakan "tiga suara itu?" . Saya paham maksudnya, terserah mau berasumsi apa. Yang pasti, bagi saya dan juga teman-teman Purwokerto, perkaderan adalah pondasi dari organisasi ini. Dengan selisih suara yang sedikit itu, menjadi PR besar bagi ketum PB saat ini, bahwa selain dukungan besar, saat ini juga ada kekecewaan yang besar. Bahkan beberapa sempat berkata " Ah..sudahlah. .kalau kayak gini..saya outsider saja". Masih tanda tanya, apakah para personil MSO itu mau untuk menerima tawaran itu. Atau teman-teman yang seharusnya bisa masuk di PB. Beberapa selentingan juga ada yang enggan untuk membantu di PB.

Tapi, saya rasa...lepas dari itu semua. Kecelakaan perkaderan ini kita ikhlaskan saja. Innalillahi wa innailaihi rojiun. Toh pada akhirnya, kecewa, sedih, lelah, dan marah, harus terhapuskan oleh sebuah asa akan sebuah cita. Di HMI itu cuma belajar ikhlas..mengikhlask an segalanya. Termasuk mengikhlaskan sebuah kematian kader. Yang terpenting adalah berkarya.

Justru kita berterimakasih pada mas Chozin yang masih mau untuk turun langsung di kancah perjuangan ini. Saya rasa itu perlu pemikiran yang sangat dalam, untuk mau terjun langsung.

Toh, PB bukanlah segalanya. Saya sebagai pengurus cabang juga menyadari bahwa ternyata kongres itu hanyalah sebagai sebuah bentuk politisasi saja. Cabang Purwokerto masih menantikan sejuta ide dan karya. PB bukanlah segalanya, ujung tombak gerakan ini ada di komisariat dan cabang. Satu pesan sms dari salah seorang kandidat ketum " ...bahwa teman-teman di cabang nggak boleh patah semangat! Pejuang itu tak boleh sedih dan kecewa. Jadikan semua momentum untuk bangkit...."

Sekali lagi air mata ini mengalir, tapi bukan sedih...melainkan sebuah semangat, bahwa asa itu harus tetap ada. Bahwa ini justru awal perjuangan kita semua.

Tentang Penutupan Kongres XXVII......
Miris. Nggak sebanding dengan pemberitaan media, sebenarnya upacara penutupan kongres kemarin adalah memperalat untuk kampanye JK saja.
Saya tidak tahu apa yang bisa disebut dengan kebanggaan pada acara penutupan kemarin? Apakah kita yang terlalu katro dengan segala kemewahan dan publisitas itu?
Saya yang memilih duduk di belakang, melihat ke-katro-an itu semua. Kita dengan seenaknya diatur-atur untuk sebuah protokoler kenegaraan saja. Hal-hal kecil, misal pakaian bang Syahrul yang kurang formal, atau tata duduk teman-teman peserta. Semua diatur-atur. Yang pake celana jeans atau kurang sopan jangan duduk disamping, nggak sopan! Saya hanya terkekeh dalam hati. Perasaan saya pernah mengikuti beberapa event yang dihadiri oleh pejabat penting nggak seekstrim itu. Waktu festival sastra internasional di Batavia Hotel, tak ada aturan2 seperti itu. Tau sendiri kan gimana penampilan para sastrawan?? Tapi..itu semua dibiarkan karena kita punya karya untuk diapresiasi. Sastrawan-sastrawan itu memang dihargai ,punya karya, jadi nggak bisa seenaknya diatur-atur protokolernya. Tapi kalau di penutupan kongres kemarin, JK yang dihargai, bukan JK yang menghargai. Kesannya memang seperti JK yang menghargai HMI karena sudi hadir. Tapi sebenarnya HMI lah yang menghargai JK karena dibela2in menutup acara hanya karena pada jam itulah JK sempat untuk mampir. Padahal, acara penutupan itu juga inkonstitusional. Masih ada dua sidang lagi yang belum terselesaikan. Berdasarkan pedoman keprotokoleran, acara penutupan kemarin itu ya nggak bener. Sekali lagi, kita sudah mengkhianati konstitusi kita sendiri. Itu padahal baru beberapa menit lho disahkan dalam kongres, Bagaimana kdepannya???
Semoga bisa menjadi pelajaran...

Tentang Sebuah Karya....... .
Dari segala potret buram di kongres kemarin, sebentuk mimpi, asa dan cita-cita masih terus akan bergulir...dan itu sempat terangkum dalam sebuah buku kecil berjudul : "HMI : Keabadian dan Inovasi Gerakan". Tersusun atas empat bagian, : HMI dan Pemikiran KeIslaman ; HMI dan MOdernitas; Kohati dan Rekayasa Sosial; Dinamika Politik Kontemporer. Di dalamnya termuat ide-ide yang bukan hanya menjadi sebuah "keabadian" namun juga merupakan bentuk inovasi gerakan yang merupakan bait asa dan cita kader. LIma belas kader yang turut rembug menulis dalam buku ini yaitu : Zubaeri; Maksun (Cak Sun); Shofa Sadulur; Ahmad Nuralam; Angga Yudhiansyah; Ahmad Sahide; Darwin; M.Syamsul HIdayat; Ade al-Ghazaki; Dusrinah, SH; Shinta arDjahrie (^_^) ; Novi Kurnia; Kusuma Dewi Subakhir; Lukman Hakim,Moh.Syafe' i; dan Zulkarnain Patwa.
Sebenarnya kalo diliat-liat. .penulisnya itu orang-orang dari cabang Jogja, atau diistilahkan sebagai sebuah bentukan karankajen. Kecuali saya tentunya. Karena ke sekre Karangkajen aja baru satu kali...he3. Tapi, lepas dari itu semua, ini adalah sebuah bentuk pemikiran yang coba diabadikan melalui tulisan. Dengan editing yang handal oleh Ahmad Nuralam dan Ahmad Sahide, buku ini dikemas apik dan patut mendapatkan rekomendasi bagus untuk konsumsi para kader. Untuk teman-teman yang berminat, bisa menghubungi teman-teman cabang JOgja, hanya Rp 20.000,00. Saya juga lampirkan scan cover dari buku tersebut. Bukan sekedar numpang promo, tapi lebih meyakinkan, bahwa kita masih dan akan terus punya asa untuk berkarya..baik itu melalui tulisan ataupun karya-karya lain.

Btw, saya ingat postingan bang Ferizal Ramli di milis brapa waktu lalu tentang pengembangan IT opensource. Mungkin bisa disampaikan idenya mas, karena di PKN (Program Kerja Nasional) PB HMI, kemarin di kongres sempat disahkan adanya sebuah program untuk pengembangan rekayasa teknologi informasi. Apalagi kalo kita liat tingkat kegaptekan temen2 kader sangat memprihatinkan. Terlihat dari permasalahan yang menjadi peredebatan di LPJ PB maupun LPT MSO,adalah masalah komunikasi lewat phone or email. Memalukan memang..tapi saat ini bukan saatnya untuk malu...tapi untuk bangkit.

Yup..sementara hanya sampai ini mungkin rantai bait kongres XXVII ini saya posting. Kongres yang menumbuhkan cinta mendalam, bahwa HMI ini hanyalah sebuah alat tapi tak dapat digantikan oleh alat apapun.
Yakin Usaha Sampai!!! (nta)




Selengkapnya.....

Saturday, April 25, 2009

Life is Never Flat!



Era global adalah keniscayaan perkembangan zaman yang akan dihadapi. segala era memilliki chalenge value yang menuntut sebuah sikap moderntias jika kita masih ingin survive. pendidikan adalah substansi primer yang memberikan sebuah proses humanisasi untuk kita mampu progresif. Era global menuntut sebuah keluasan pandangan dengan menghilangkan friksi-friksi yang selama ini hanya mendikotomikan kehidupan manusa.Singkatnya, di era global : life is never flat!


Sebuah kebebasan friksi ini membuat kita membutuhkan sebuah proses pembebasn yaitu pendidikan. Pendidikan yang mampu membuat kita menatap secara global dan komprehensif tantangan-tantangan yang akan muncul. Pendidikan yang membebaskan mensyaratkan adanya sebuah penempatan pendidikan pada prioritas kebbutuhan. Kita harus bisa mendapatkan akses pendidikan yang benar-benar esensial. Bukan pendidikan yang "coba-coba". BUat Pendidikan Kok Coba-coba? ^_^
Negara Belanda memiliki sistem pendidikan yang tepat posisi. Pendidikan tepai posisi mengisyaratkan sebuah sistem yang diselenggarakan secara bertanggungjawab, yang merupakan mekanisme tanggungjawab pemerintah sebagai mandataris kekuasaan rakyat. Hal ini berkonsekuensi pada terjaminnya akses pendidikan. Salah satu indikasi terjamin dan berkualitasnya pendidikan adalah penyediaan anggaran pendidikan yang sesuai kebuuutuhan.
Indonesia dalam pengelolaan bangsa belum menempatkan pendidikan sebagai pijakan uatama. Berbeda dengan Belanda yang memiliki political will dalam pembaharuan pendidikan. Pada tahun 1996, anggaran pendidikannya mencapau 7 persen dari PDB atau 37 persen dari APBN. Belandddda merupakan negara kesejahteraan yang pendapatan negaranya hanya untuk membiayai lima hal : 1) Pendidilan, 2) Kesehatan , 3) Pertahanan Negara, 4)Administrasi Negara, dan 5)Infrastruktur dasar.
Terjaminnya pendidikan merupakan sampan yang akan membawa kita pada lautan globalisasi dengan nyaman. Era Global juga mensyaratkan terlepasnya friksi-friksi kesenjangan dalam pendidikan. Kesenjangan apapun dalam dunia pendidikan, baik geografis maupun ekonomi, sosial-budaya. Sesungguhnya di era global sudah tak dikenal lagi pendidikan "bertaraf internasional", "sekolah nasinal plus-plus" dan lain-lain. Tiap sistem pendidian di masing-masinng negara memiliki nilai tambah tersendiri yang itu dikokohkan untuk mampu memiliki bargaining position di mata dunia. BUkan bargainin position untuk menjual pendidikannya, melainkan bargaining position negara secara luas serta bargaining position SDM outputnya. Tidak ada persaingan dalam pendidikan, yang ada hanyalah persaingan SDM output dari sebuah sistem. Maka kita harus dapat menggali semakin banyak ilmu, dimanapun. Pendidikan nasional yang terjamin membuat proses pembelejarannya lebih efektif. Parameter terjamin dapat dilihat dari kebijakan-kebijakan pemerintah dalam penyelenggaraan pendidikan. Belanda telah menempatkan pendidikan sebagai salah satu prioritas primer dalam keberlangsungan sebuah pembangunan. Dalam sistem yang tepat posisi , insan peserta didik akan dapat merasakan sebuah proses humanisasi, pembebasan karena disitu peserta didik adalah subjek bukan sebagai objek pendidikan.
So, selain rajin belajar di negeri sendiri, yuk kita gali ilmu dari negara-negara lain juga untauk dapat melihat keanekaragaman dunia. Cause this life is never flat,guys! Lets to reach more....^_^

-nta-
250409

Selengkapnya.....

Sunday, April 05, 2009

Rekayasa Teknologi Informasi Berbasis Masjid

Kalau kita sering berwacana mengenai gurita kapitalisme yang telah mencengkeram begitu erat, maka PR terberat bagi para pewacana adalah bagaimana solusinya? Perkembangan teknologi yang menjadi warna dari modernisasi zaman adalah salah satu bentuk komoditi para kapitalis. Murninya Sains for sains sudah mulai pudar, semua menjadi sasaran untuk bagaimana mendapatkan keuntungan semata. Kekuatan untuk menghadapi ini adalah dengan mengembangkan daya kreasi dan inovasi dalam dunia teknologi khususnya teknologi informasi.



Membangun teknologi informasi berbasis open source melalui pemberdayaan adalah sebuah visi yang coba dirintis oleh beberapa pemuda(i) yang tergabung dalam Puskom MAFAZA (Pusat Komputer Masjid Fatimatuzahra). Berawal dari pemikiran-pemikiran yang sederhana dengan semangat perlawanan terhadap kapitalisme dalam perkembangan teknologi informasi, kita mencoba berkarya dalam dunia TI. Perkembangan teknologi adalah untuk semua, bukan sebuah hal yang eksklusif dan tak dapat disentuh oleh masyarakat. Teknologi bukan sebuah hal yang mahal yang semakin memperluas kesenjangan sosial masyarakat bahkan . Puskom Mafaza melakukan inovasi di tahun ini dengan membangun sebuah Pusat Pengembangan Keahlian Rekayasa Teknologi Informasi. Dalam dua pekan kemarin - dimulai sejak tanggal 29 Maret yang lalu- , telah melakukan open recruitment untuk divisi COC (center of Competency) IT Service, yang terdiri dari COC Aplikasi, COC Operating System, COC Database, COC Hardware, COC Elektronika, dan COC Network. Teknis kerja COC ini adalah seperti konsep perang gerilya dimana sebuah tim memiliki pasukan-pasukan komando yang memiliki keahlian husus dengan kemampuan memberikan layanan kepada unit yang membuthkan. Puskom Mafaza yang disetting sebagai pusat pembelajaran dan pengembangan rekayasa teknologi informasi terbuka untuk semua umat muslim. Beberapa hal yang menjadi syarat dasar adalah : 1) mau menjadikan masjid sebagai pusat kegiatan ummat serta memakmurkan, dan 2) Berkemauan menjadikan diri pribadi unggul dibidang rekayasa Teknologi Informasi. Untuk kemampuan-kemampuan teknisnya akan dilakukan melalui test tertulis mengenai bidang-bidang khusus sesuai peminatan bidang masing-masing.

Puskom MAFAZA adalah sebuah pengembangan dari divisi kesekretariatan yang selama ini telah berfungsi sebagai pusat database takmir masjid Fatimatuzahra – Purwokerto. Pengembangan secara optimal di bidang teknologi informasi ini diharapkan mampu melahirkan insan-insan kreatif dan inovatif dalam dunia TI. Dalam lingkup kecil,disini misalnya kita belajar seperti membuat software-software yang dibutuhkan dalam ativitas sehari-hari, setidaknya kita mengenal dunia IT disini. Sistem Open Source ini membuat para anggota memiliki ruang bebas untuk belajar dan berkreasi. Pemikiran dasarnya adalah perkembangan teknologi adalah bagian dari sains yang harus kita pelajari, teknologi nggak mahal, teknologi nggak susah, belajar itu enjoy! Tentunya dalam proses pengembangan ini, Puskom telah memiliki jaringan dengan pihak-pihak yang terkait yang berkompeten di bidangnya.

Kenapa Masjid? (catatan kaki tentang MAFAZA)


Puskom Mafaza ini berbasiskan kekuatan masjid sebagai pusat ibadah umat Islam. Ibadah dalam arti yang sangat universal, termasuk didalamnya mengembangkan ilmu pengetahuan. Takmir masjid Ir.M.Nuskhi Zetka yang juga mantan sekum PB HMI (MPO) era 1986 (Periode Egy Sudjana), memiliki strategi manajemen masjid sebagai pusat aktivitas masayarakat yang berlandaskan nilai Islam. Bisa dikatakan bahwa Masjid Fatimatuzahra (Mafaza) adalah Islamic Centre di kota Satria Purwokerto ini.

Sudah saatnya kita sadari bahwa masjid adalah sebuah aset berharga bagi umat Islam. Masjid adalah benteng pertahanan umat Islam untuk menyusun strategi-strategi yang progresif. Masjid bukan saja sebagai tempat untuk sholat berjamaah, tapi lebih dari itu masjid merupakan jantung aktivitas masyarakat dan pengembangan keilmuan untuk dapat dimanfaatkan umat. Keseimbangan IPTEK dan IMTAQ serta pemberdayaan masyarakat adalah ruh dari pengembangan masjid yang berlokasi di Jl.Madrani – Grendeng Purwokerto ini. Selain di bidang pengembangan teknologi informasi, pengembangan ilmu pengetahuan juga dilakukan di berbagai bidang seperti hiburan, pendidikan, ekonomi, budaya, kesehatan, pembinaan keluarga, pemberdayaan masyarakat, dll.

Mafaza adalah salah satu benteng umat Islam di kota Satria. Dengan pemakmuran masjid di berbagai wilayah, kita harapkan pondasi kekuatan umat muslim menjadi kuat. Semoga.

Shinta arDjahrie (crew of divisi COC Elektronika Puskom Mafaza).

Selengkapnya.....

Wednesday, April 01, 2009

Tentang Tuntutan Peran...

“ Kalau tuntutan peran itu gimana mbak?”

Senja hampir memudar. Qu masih “bermain-main” di “kantor” radio Mafaza. Suasana senja yang semakin gelap tidak mengurangi dinamisnya aktivitas di GSG lt.1 itu. Senja itu aku ditemani oleh salah seorang adik, nampaknya dia memiliki curious yang tinggi. Disela-sela obrolan, dia mengajukan pertanyaan dan sedikit curhat. Dia mengetahui aktivitasku sebagai anggota teater. Ternyata dia (namanya Ika), juga member teater di fakultasnya

Saat ini Ika katanya sedang mundur dan vakum sejenak dari aktivitas teaternya. Beberapa waktu yang lalu dia mendapatkan peran yang menuntut adegan “hampir ciuman”. Dia ngrasa kurang sreg, dan banyak pertanyaan muncul mengenai dunia teater, jadi dia ingin sejenak istirahat dari dunia peran. Senja itu dia menanyakan hal tersebut padaku.

Sebenarnya ini bukan pertama kali aku ditodong pertanyaan sejenis itu, beberapa adhe yang juga tertarik bergelut di dunia teaterkerap kali menanyakan. Berkecimpung di dunia teater mungkin bukan hal baru buatku walaupun aku menyadari kemampuanku yang masih sangat minim. Dimulai saat SD dulu sering membuat naskah drama musikal kemudian di SMP dilanjutkan aktiv di teater kota Tegal (Duta Tarusima), kemudian menjadi ketua teater saat SMA, mungkin dulu adalah masa-masa manisku bersama teater. Saat mahasiswa, harus kufokuskan perhatianku hingga pada akhirnya sampai sekarang tidak menjadi “anggota resmi” Teater kampus Sastra (TEKSAS).


“Aku tau mbak shinta orang teater, tadinya aku kaget...ternyata ada juga anak teater pake rok dan jilbab panjang....”

Itu awal pembicaraan di pertemuanku dengan Ika saat dia mau belajar siaran. Aku hanya ketawa pendek. Dulu, saat awal-awal kuliah, masih rajin ikut latihan rutin, aku sering ditegur untuk melepas kaos kaki saat mo latihan gesture.

Lepas dari itu semua, teater dunia yang sangat menarik. Mungkin sebagian orang menganggapnya aktivitas-aktivitas kita disana seperti orang gila. Namun, gila dalam pandangan kita adalah sebuah kreativitas...bukan sebuah kegilaan dilua batas, tapi sebagai sebuah ekspresi atas segala pemikiran. Mungkin dirasa gila, karena memang di lingkungan kita masih memiliki habit untuk “pamali” berekspresi. Kebebasan kita dikekang atas nilai-nilai yang sebenarnya tidak memiliki landasan jelas.

Kebebasan juga memang kadang disalahartikan. Sepenuhnya saya akui, dunia “orang-orang teater” bukan wilayah yang aman walaupun terasa nyaman. Menemui orang-orang teater yang mabuk sebelum berekspresi, minum-minuman keras, seks bebas, bukan hal yang sulit, Tapi itu adalah dunia “orang-orang teater” bukan “dunia teater” secara esensial.

Kembali ke pertanyaan Ika , “Kalau tuntutan peran gimana donk mbak?”
Bagi saya pribadi.. ketika kita mengartikan sebuah karya seni sebagai sebuah bentuk kreativitas, maka mati-kah kreativitas saat bertemu dengan sesuatu yang bersifat “seks'? Ketika kita mengatasnamakan sebagai orang kreatif, apakah kita sebatas pada kreativ sex? Sederhananya, apa nggak ada karya kreatif yang bisa kita hasilkan selain pada hal-hal yang saya pribadi melihatnya sebagai sebuah ekspresi nafsu bukan sebagai ekspresi pemikiran. Kemudian profesionalitas dijadikan dalih untuk memuaskan nafsu itu.

Tapi, memang semua adalah pilihan...karya tak bisa dibatasi. Namun, semua bergantung pada apa yang kemudian menjadi landasan karya kita. Ketika seorang penulis atau penyair, hanya sekedar melepaskan ekspresi, membuat karya ...semua sudah selesai perkara. Tapi, prinsipku pribadi adalah ada sebuah tanggungjawab dari setiap apa yang kita buat dan perbuat, dari segala karya kita.
Obrolan terhenti..karena ada panggilan dan senja semakin gelap. Lain kali disambung lagi..banyak hal tentang teater..dari sejarahnya hingga perkembangannya kini.

Nb :jadi inget pak Topo (alm),,,, terimakasih atas segala ilmu dan bimbinganmu di dunia teater pak!!!

Selengkapnya.....

DAGANGAN ITU BERNAMA PENDIDIKAN

(catatan seorang mahasiswa “hampir tua”)

Teriknya cuaca akhir-akhir ini ternyata meradiasi suasana kampus yang juga jadi panas. Sekurangnya dua aksi demonstrasi terjadi dalam satu hari dengan kasus yang berbeda. Patung jenderal Soedirman masih berdiri kokoh diatas kuda tunggangannya, terdiam menatap aksi-aksi para mahasiswa. Tak beda dengan aksi-aksi pada tahun-tahun sebelumnya, lalu apa sebenarnya makna kontinuitas perjuangan itu?
Kabar memanasnya kampus sebenarnya sudah kuterima beberapa hari yang lalu. Permintaan menjadi moderator diskusi antara birokrat dan mahasiswa memang kuterima, dan setidaknya aku sedikit memberikan saran untuk lebih slow. Semua permasalahan yang ada sebenarnya berujung pada “komersialisasi pendidikan”. Terkutuk memang para kapitalis itu!! Keparat, bidadab!

AKSI SEGEL KELAS DAN MOGOK KULIAH
Kampus sastra UNSOED memanas. Ini memang kabar lokal, tapi perlu dicermati untuk dunia pendidikan kita. Sekitar belasan ruangan rabu kemarin (31/3) di kampus sastra Inggris disegel mahasiswa. Perkuliahan tidak berjalan seperti biasanya. Mahasiswa enggan untuk mengikuti perkuliahan yang semakin lama semakin terasa amburadulnya. Apa pasal? Peraturan mengenai gaji dosen mengakibatkan para tenaga pengajar melakukan penggabungan kelas. Tiap angkatan, mahasiswa sastra Inggris ada sejumlah 3-4 kelas (kelas A, B, C, dan D), masing-masing kelas terdiri dari sekitar 25-30 mahasiswa. Karena terbatasnya jumlah dosen, maka tiap dosen harus mengampu semua kelas tersebut. Dengan kata lain, dosen melakukan minimalnya dua kali tambahan mengajar untuk tiap mata kuliah di tiap angkatan. Sementara peraturan dari rektorat menentukan pembayaran gaji dosen hanya dihitung satu kali mengajar (pokok), dan satu kali tambahan. Untuk tiap mata kuliah per angkatan, dihargai sekitar Rp 60.000,00. Dengan banyaknya mahasiswa dan harus mengajar tiga kelas tiap angkatan, maka untuk tiap kali mengajar dosen dihargai Rp 20.000,00. Kabar yang ada disinyalir pula, beberapa dosen honorer belum menerima hak mereka yaitu ongkos lelah mengajar.

Lepas dari masalah ketulusan dan keikhlasan dalam mengajar, minimnya biaya lelah dalam mengajar membuat para dosen berfikir keras. Akhirnya mereka memutuskan untuk menggabungkan kelas. Tiap angkatan kini menjadi dua kelas, hanya ada kelas A dan B, yang berarti tiap kelas itu muatannya bisa sampai 50 mahasiswa di tiap pertemuan. Sedangkan mata kuliah yang ada di sastra Inggris yang notabene berhubungan dengan keterampilan bahasa dan pengenalan kebudayaan, kebanyakan terdiri mata kuliah praktikum. Sebagai contoh, bisa dibayangkan saja, apakah efektif saat kelas “speaking” dilakukan dalam sebuah kelas yang terdiri dari 50 peserta didik?
Tentunya hal ini tidak bisa diterima oleh para mahasiswa. Bagaimana mereka bisa tenang saat harus belajar di kelas yang sempit, panas, dengan mahasiswa berjubel melebihi batas. Sebenarnya dari dulu hal ini sudah sering dirasakan. Nggak jarang saat akan memulai perkuliahan, kita harus mengangkat kursi dari ruangan lain karena kursinya kurang. Belum lagi kalau berbicara mengenai kualitas pengajar. Belum ada guru besar disini. Untuk melakukan rujukan-rujukan dalam hal linguistik maupun sastra, masih sangat kurang tenaga pengajarnya. Dosen-dosen muda masih banyak bertebaran disini. Di lain pihak dosen muda lebih meremaja, namun dalam hal pengalaman mengajar kita masih sangat membutuhkan ahlinya , apalagi fasilitas yang ada masih jauh dari kata “good”.
Tak heran aksi segel kelas dan demonstrasi ke dekanat mewarnai Rabu siang yang panas itu. Walaupun jarak antara prodi sastra Inggris dan dekanat FISIP lumayan jauh, namun itu tidak menyurutkan langkah para calon sarjana sastra yang juga masih belum bisa membaca jelas “future” mereka karena kurikulum yang ada juga masih berantakan. Rabu senja kutengok kampus, masih terlihat sisa-sisa kekecewaan para mahasiswa. Berdasarkan keterangan korlap, Agung Benta (Abe), “ Rencana turun ke jalan sebenarnya tidak direncanakan, ini karena emosi teman-teman mahasiswa”. Abe nampak lelah saat kukunjungi di rumah kontrakannya. Aku memang tak turut aksi ke jalan, karena sudah dari awal menilai masalah ini kunci-nya bukan pada demo, tapi pada lobying. Tapi tak mengapa, itu merupakan bentuk kekecewaan teman-teman, tapi yang pasti aksi-aksi untuk melobi para birokrat harus tetap dilakukan, karena aku sudah tahu persis bagaimana bejatnya para pejabat terhormat itu!

DILEMA BOPP


Bersamaan dengan aksi para mahasiswa sastra, ternyata juga ada aksi demonstrasi lain dari fakultas-fakultas lain di UNSOED. Aksi ini merupakan reaksi dari munculnya kebijakan munculnya BOPP (Bantuan Operasional Penyelenggara Pendidikan). Entah lembaga apa lagi yang dibentuk. Isu yang muncul itu adalah pengganti dari lembaga POM (Persatuan Orangtua Mahasiswa) yang intinya adalah merupakan lembaga yang menampung dana pendidikan diluar pembayaran resmi (SPP).
Pendidikan memang membutuhkan biaya, Jer Basuki Mawa Bea, namun pendidikan bukan merupakan sebuah lembaga investasi yang digunakan untuk melipatgandakan modal untuk kepentingan beberapa pihak saja. Pabrik buruh kini adalah predikat yang melekat pada lembaga bernama kampus. Perguruan tinggi tidak lebih dari pencetak tenaga-tenaga buruh yang nantinya akan menjadi budak-budak kapitalis.
Pendidikan secara formal memang merupakan hak, maka kupikir bolehlah kita mengambil hal itu atau tidak. Namun pendidikan secara esensial adalah kewajiban dari tiap manusia. Wajib bagi kita untuk menuntut ilmu, menerima pendidikan, dan bukan untuk menjadi budak dari investasi pendidikan. Sains for sains itu adalah kode etik dari seorang yang berilmu. Terdengar cukup idealis mungkin. Tapi memang itu yang perlu ditanamkan. Ilmu setinggi apapun jika hanya untuk memenuhi kantong pribadi maka, apalagi sampai mendzholimi orang-orang yang tertindas, apalah artinya?
BHP, POM, BOPP, dan tetek bengek lainnya hampir nampak seperti ceremony yang tak berkesudahan. Miris rasanya melihat itu sebagai sebuah rutinitas demonstrasi yang tak berujung. Sebuah evaluasi untuk pergerakan mahasiswa untuk stop melakukan aksi-aksi latah yang tak memiliki sebuah nilai solutif bagi permasalahan yang ada.
Namun sebagai sebuah penanaman semangat, saya hanya bisa memberikan dukungan serta semangat untuk teman-teman mahasiswa. Tahun ketiga di kampus jenderal ini sekaligus mantan petinggi BEM (kalo kata orang seperti itu), membuatku merasa lelah dengan demonstrasi yang tak berarti. Bukan berarti lelah berjuang, namun muak melihat pongah para penjahat pendidikan dan aksi mahasiwa yang lebih bisa disebut tak tersistem. Lepas dari itu semua, semoga mahasiswa Indonesia makin cerdas dalam melihat permasalahan yang ada di sekitar kita. YAKIN USAHA SAMPAI! (nta)


Selengkapnya.....

Saat Sesak di Dada

“Hidupku adalah perjuangan, jika harus ku khianati…lebih baik lepas nyawa ini…”

Dadaku sesak.... serasa bergejolak. Mataku mulai memanas…seandainya sudah tesedu..mungkin tubuh ini sudah lelah terguncang sesenggukanku.
Semua berputar, membawaku dalam dilema hati dan idealisme. Kenapa harus dua sisi itu yang kemudian menantang pemikiranku untuk berkelana mencoba menelaah apa yang selama ini aku rasa?. Profetis adalah sebuah etik bagi manusia yang dalam prinsipku adalah harga mati. Humanisasi adalah hakekat..jika kita memang memilih untuk “hidup”.
Apakah aku harus meninggalkan damparan ini? Ada yang kurasa sebagai sebuah rengkuhan dan harapan, mampu kembali membukakan pintu yang selama ini aku tutup rapat dan terkunci. Bukan sekedar sebuah gejolak. Namun aku pun tak menghendaki. Harapan akan sebuah aras idealita membawa asa hati ini terbang menuju kesempurnaan untuk masa depan abadi..yaitu kematian! Ada mimpi-mimpi manis yang menyanyi di ruang hati, bukan sebatas senang hati namun kecintaan universal yang terasa.


Namun kini, mungkin nuraniku memanggil, akan sebuah evaluasi diri, evaluasi atas prinsip hidup ini. Hidup adalah berkarya dan perjuangan, jika sampai kukhianati maka lebih baik lepas nyawa ini…..

Gundah. Ku coba telisik akan sebuah perjalanan, pada sebuah sikap, pada sebuah etis. Ada sebuah pengkhianatan disana. Ada pilar menjulang yang tidak selaras dengan lantai yang aku hamparkan dengan keyakinan.

Jika ku lena maka aku khianat…itulah yang membuatku sesak hingga ingin terobos lapisan rusuk, membongkar pertanyaan-pertanyaan. Kenapa harus perdebatan ini yang muncul dalam fikirku?

Ya Rabbi, tapi lugu hati itu masih hidup…masih ada ..utuh! nurani yang masih menampakan siratan kemurniannya. Atau hatiku yang telah terbutakan??? Aku telah dihadapkan pada sebuah manis akan istiqomah, indahnya sebuah keteguhan hidup! Itu adalah pilihan! Kenapa harus mengambil pilihan yang membuat kita menjadi seorang pengkhianat? Inikah skenario untuk diambil hikmahnya? Tapi manusia wajib berusaha! Arrraghhhhh……………….!!!
Rabbi…dalam isak ini…aku hanya mengharap cintaMu…tak lain, tak bukan. Sedu ini sebuah manifesto pergolakan akan terbolak-baliknya qalbu. Benar-benar sebuah bukti akan wujud manusiaku..yang hanya sebagai makhluk lemah di hadapanMu……………..astaghfirrullahaladzhim!

290309..dalam bimbang dan sedu sedan.

Selengkapnya.....

Catatan Kaki dari Palestina

Akhir pekan (29/3) yang renyah, nampak dinamika aktivitas di salah satu area kampus Universitas berpangkat Jenderal Soedirman ini. Settingan tempat yang formal awalnya membuatku menyalahkan diri sendiri yang lupa berganti sandal jepit walaupun setelan batik rapih telah dikenakan sepulang dari kegiatan di masjid tadi. Namun, siang ini ada sebuah undangan talkshow “ Catatan Kaki Seorang Dokter di Gaza”, dengan menghadirkan keynote speaker : dr.Joserizal Jurnalis, SP.Ot.

Nama Joserizal memang bukan nama asing di Indonesia. Selain menjadi nama salah seorang penyair tenar…nama Joserizal dikenakan pula oleh salah satu putra terbaik bangsa yang mengabdikan dirinya di dunia medis. dr.Joserizal adalah salah satu dokter yang menjadi relawan dari MER-C Indonesia yang ditugaskan di Palestina saat agresi militer Israel beberapa tempo lalu. So, mengingat banyak ilmu yang bisa didapat, sandal jepit yang terkesan nggak matching itu membuatku cuek dan berkilah…”who care??!!”

Dijadwalkan dimulai pukul 10.30 WIB ternyata time error sekitar 30 menit. Beberapa tamu yang hadir -nampaknya para medisian yang fundamentalis - kemudian menyerukan panitia untuk lekas dimulai mengingat nanti bisa memotong waktu Dzuhur. Setelah dibuka oleh dua mahasiswa(i) dari jajaran Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Fakultas Peternakan UNSOED, acara dimulai dengan dimoderatori oleh dr.Tarqib. Gaya kocak sang moderator lumayan membuat suasana cair, dan tanpa menunggu lama sang keynote speaker pun menyampaikan ulasannya.

Tragedi Gaza bak sebuah luka yang bekasnya menimbulkan luka perih yang menyebar dan menghujam di hati seluruh umat dunia. Hanya manusia yang punya hati yang mampu melihat tragedi itu sebagai sebuah tragedi kemanusiaan yang memilukan. Gaza adalah salah satu contoh saja dari sekian banyak konflik di dunia ini yang mampu membuat manusia seperti tak memiliki nilai dengan dibantai tanpa tedeng aling-aling. Sebuah tanya retoris di awal ulasan pak dokter Jose, “Kenapa Gaza?”, karena disanalah kita menghadapi “mbahnya teroris” dengan kontak fisik secara langsung. Kekejaman yahudi Israel bukan hanya membuat dunia gempar, namun lebih jauh dari itu, masa depan


Gaza yang mengundang lautan simpati dan keprihatinan menggerakan ratusan relawan yang mencoba mengabdikan potensinya untuk menolong saudara-saudara yang menjadi korban. Bukan hanya ada MER-C disana, ratusan lembaga relawan juga tak absen hadir disana termasuk pula lembaga-lembaga non muslim. Namun menurut cerita bang dokter, mereka itu masuk setelah gencatan senjata. Sedangkan MER-C masuk ke Gaza saat peperangan masih berlangsung. Ikhlas menjadi amunisi yang kuat bagi perjuangan teman-teman di MER-C. Dalam kesempatan itu Joserizal tak lupa menceritakan ihwal MER-C ini dan dari diskusi yang ada juga banyak audiens yang menanyakan kaitannya mengenai independensi lembaga ini. MER-C adalah organisasi sosial kemanusiaan yang bergerak dalam bidang kegawatdaruratan medis dan berasaskan Islam serta berprinsipkan rahmatan lil alamin.

Abang dokter yang putra melayu ini menyuguhkan tayangan video perjalanan jihadnya bersama beberapa rekan yang tergabung di MER-C(Medical Emergency Rescue Committe ) Indonesia di Gaza, Palestina. Bukan sebuah travelling yang penuh hura-hura atau piknik yang fresh..tapi tim relawan dokter itu tetap nampak have fun dengan ghirah perjuangannya. Video itu tampak membius ratusan audiens yang telah diundang oleh DDII dan BEM Fapet UNSOED – Purwokerto selaku penyelenggara event tersebutt. Sekitar 120 peserta memadati ruang seminar I di lt.3 Gdg Fak.Peternakan UNSOED.

Bang joserizal bisa dibilang salah satu sosok intelektual profetik yang bisa kita tiru. Wawasannya yang luas membuat alumni FKUI ini mampu membaca masalah secara komprehensif. Beberapa kali terulang di ucapan si abang mengenai intelektual-intelektual di negara kita yang kini mudah lena oleh kipasa dollar. Sains for sains, -menurut bang jose harus dapat menjadi prinsip bagi para ilmuwan apapun bidangnya. Ungkap sang abang, orang pinter di Indonesia (baca : intelektual) mudah dibeli kapabilitas keilmuannya hanya dengan kipasan dollar atau tawaran beasiswa misalnya.

Saat ini jeratan neoliberalisme yang menurunkan paham-paham sejenis kayak kapitalisme memang sudah menggurita dengan berbagai form-nya. Beberapa skandal seperti kasus virus H5N1 menjadi salah satu contoh yang dikisahkan oleh Joserizal. Ngeri juga sieh kalo kita tahu bagaimana “cerdik”nya para antek kapitalis memainkan aksinya. Bukan hanya di bidang medis, pendidikan dan bidang lain juga tak luput menjadi sasaran.

Ulasan ini membuat kita semua merasa perlu untuk memahami filosofis ilmu itu sendiri. Bukannya sok ngefilosofis sieh, tapi dipikir kalo keilmuan yang kita miliki tak mampu menjadi sebuah alat untuk melakukan keberpihakan dan hanya terbius pada kesenangan duniawi saja….kita secara langsung merendahkan ilmu! Kalo kata abang Jose, persepsi Yahudi adalah bahwa ilmu itu : how to get d’money!, kalo kata orang Amerika melihat ilmu adalah ; “how to look the money”. Disini kita melihat adanya perbedaan persepsi mengenai ilmu yang itu berpengaruh pada implementasi yang dilakukan.

So, buat para anak muda kayak kita-kita nih kudu bisa memahami hakikat ilmu yang kita cari selama ini. Biar ilmunya jadi berkah. Perjuangan yang dilakukan dokter Jose adalah salah satu bentuk jihad. Banyak sekali hal yang bisa kita lakukan yang tentunya dengan potensi kita masing-masing. Jangan dikira Yahudi cuma memerangi secara fisik aja!!! Bagi para pejuang medis...berjuanglah dengan ilmunya, bagi para pejuang pena gunakanlah ketajaman pena dan pemikiran, bagi yang punya ilmu di bidang hukum bisa berjuang dengan kemampuannya. Kita adalah kita saat mampu berbuat, saat mampu berkarya untuk hidup ini. Tapi..hati-hati jangan sampai kita nggak bisa membedakan mana yang perjuangan dan mana yang “antek”. (nta)

bisa dilihat di www.hminews.com

Selengkapnya.....

Penyimpangan DPT : Pemilih Bagai Manekin

Menghitunghari di beberapa pekan terakhir menuju Pemilu 9 April 2009, suasana semakin memanas. Bukan sekedar saling adu sindiran antara pentolan partai, namun isu kekeliruan Daftar Pemilih Tetap (DPT) menjadi episode dengan rating tinggi. Daerah timur pulau Jawa nampaknya tak bosan-bosannya membuat sensasi di fragmen bangsa ini. Setelah lepas dari kemunculan Ryan “tukang jagal” dan “sang bocah sakti” Ponari, provinsi Jawa Timur kini juga menjadi daerah pemicu adanya dugaan penggelembungan suara melalui penyimpangan DPT.

Kejadian ini memunculkan wacana pemunduran jadwal PEMILU. Dengan asumsi bahwa Pemilu ini tidak untuk menjadi bahan pertaruhan atas kehancuran bangsa lima tahun mendatang, usulan Pemilu diundur menjadi topik menarik untuk diangkat.
Mengenai DPT sendiri, tentunya telah melalui proses-proses yang telah diatur oleh KPU. Semenjak 5 April 2008, diawali dengan penyerahan Daftar Potensial Pemilih Pemilu (DP4) oleh pemerintah (depdagri) kepada KPU. Berdasarkan data waktu itu, jumlah pemilih ada 154.741.787. Proses ini kemudian berlanjut pada 20 Juni 2008 melalui SK KPU no 139/2008 yang mencantumkan Daftar Oemilih Sementara 9DPS) sebanyak 174.410.453. Angka tersebut mengalami perbaikan pada 15 September 2008 dengan berkurang sekitar 2juta hingga menjadi 170.752.862. SK KPU mengenai DPT keluar tanggal 24 November 2008(setelah sebelumnnya sudah ada ketetapan no 383/2008 namun tanpa data pemilih dari Papua dan Luar Negeri yang belum masuk), dengan jumlah pemilih 171.068.667. Kemudian melalui keputusak KPU no 164/KPTS/KPU/tahun 2009, pada tanggal 7 Maret 2009, KPU mengumumkan DPT hasil revisi dengan jumlah pemilih menjadi 171.265.442 atau bertambah 195.775 dari jumlah sebelumnya (republika 23 Maret 2009).
Di beberapa KPUD, data DPT rupa-rupanya masih ada yang diambil berdasarkan teknis copy-paste dari data DPT Pilkada. Hal ini menjadi riskan kepada terjadinya penyimpangan, hingga muncul nama-nama “gaib” pada daftar pemilih tetap. Beberapa kasus penyimpangan yang menjadi modus antara lain, NIK dan nama sama; NIK dan TTL (Tempat Tanggal Lahir) sama; Usia dibawah 17 tahun dan belum menikah; usia nol atau sudah meninggal. Munculnya pengaduan atas kekeliruan DPT, dapat diambil beberapa analisa.

Pemasangan DPT di masing-masing kelurahan tentunya sudah harus dilakukan dari beberapa waktu yang lalu, namun dari pengaduan yang ada, tidak ada yang datang dari pemilih. Ini benar-benar menunjukkan tidak adanya antusiasme dari masyarakat mengenai penyelenggeraan Pemilu 2009. Tercantumnya nama diri di DPT merupakan sebuah hak politik dari setiap warga masyarakat. Sama halnya saat mencari pengumuman lolos seleksi CPNS dan sejenisnya, seharusnya pemilih juga berantusias untuk mengetahui apakah dirinya sudah ada di DPT atau belum.Ketika terjadi penyimpangan-penyimpangan juga semestinya masyarakat lah yang pertama kali tahu mengenai hal itu, karena nama-nama yang dimanipulasi adalah nama-nama warga yang secara langsung mereka berinteraksidi setiap harinya. Namun, boro-boro mau ngadu.. ada atau tidak adanya nama mereka di DPT juga bodo amat.
Ini merupakan hal yang perlu mendapat perhatian. Selain mengkritik kinerja-kinerja KPU, mengadakan kampanye-kampanye besar-besaran, yang lebih penting diperhatikan adalah bagaimana membangun kesadaran kritis masyarakat akan pentingnya hak politik mereka. Pesta ini dibiayai dengan uanng rakyat, pesta ini untuk rakyat. Bukan berarti kemudian dihambur-hamburkan untuk mengadakan kampanye hiburan bagi rakyat, namun bagaimana pengelolaan dana ini menjadi agenda-agenda pendidikan politik bagi masyarakat. Kalau sekedar memberikan hal-hal manis pada masyarakat saat kampanye, itu tak lebih dari upaya pembodohan dan penistaan rakyat. Dan itu adalah hal terculas yang dilakukan di drama politik Indonesia!
Kehadiran Panwaslu memang cukup membantu untuk menertibkan pelanggaran – pelanggaran yang ada. Namun, jika sebatas permainan sepakbola yang mempertemukan 22 orang saja, memang cukup dengan satu wasit, tapi kalau untuk mengawasi ratusan juta pemilih, lebih dari 40 parpol, kehadiran panwaslu sebagai satu-satunya wasit menjadi terengah-engah dan kurang efektif. Wasit yang paling efektif adalah rakyat itu sendiri sebagai pelaku pesta demokrasi. Walaupun KPU udah banting tulang mempersiapkan logistik pemliu hingga berdarah-darah dan panwaslu juga sudah jatuh bangun, jika rakyat masih seperti “mayat hidup” terhadap pelaksanaan Pemilu, hal itu seperti menuli di atas air. Kinerja KPU dan Panwaslu memang patut diacungi jempol dan kita anugerahkan berjuta terima kasih kepada kedua lembaga tersebut. Namun, apa artinya jika sang pemegang kedaulatan suara apatis terhadap semua itu?
Gerakan pemilih cerdas merupakan sebuah agenda besar, PR utama bagi para pelaksana Pemilu, baik itu KPU, Panwaslu, dan tak kalah pentinya yaitu partai polotik. Kalau memang hak suara bukan dianggap sebagai sebuah hak dasar, ya udah nggak usah ada Pemilu saja!!! . Biarkan saja pemerintahan dilakukan dengan model aristokrat tanpa pemilihan umum, sehingga tidak menjadi demokrasi yang dipaksakan bukan atas kesadaran…begitukah???sedemikian parahkah kondisi kesadaran kritis masyarakat Indonesia?
Jika memang penegakan demokrasi menjadi tujuan kita bersama, mari kita melihat titik point yang urgent. Bukan sebatas pada pengkritisan kerja-kerja teknis pemilu atau bahkan saling sikut untuk berlomba memberikan sindiran terpedas kepada lawan politik, namun bersama-sama membangun pencerdasan masyarakat. Ketika tujuan Pemilu ini tulus untuk pendewasaan politik rakyat, maka seharusnya agenda-agenda yang dirancang adalah agenda pencerdasan , sehingga rakyat akan proaktif dengan posisinya nanti sebagai pemilih, sebagai “aktor utama”, peserta VVIP dalam pesta demokrasi besok. Mari sukseskan Gerakan Pemilih Cerdas Untuk Pemilu 2009! (nta)

Selengkapnya.....

Kampanye dan Perempuan

Tahap kampanye menjelang pemilu legislatif 2009 telah menginjak pada tahapan untuk melakukan kampanye terbuka. Pada fase ini, tiap partai politik sebagai mesin demokrasi diberi kesempatan untuk melakukan propaganda secara terbuka pada masyarakat Indonesia.
Kampanye terbuka yang telah berjalan beberapa hari memberikan sebuah warna di negara ini, warna cerah dan tak pelak muncul juga warna suram. Kreativitas dan inovasi banyak dilakukan sebagai media kampanye. Hiburan rakyat menjadi salah satu pilihan terlaris bagi banyak parpol dalam melakukan kampanye. Alternatif ini dipilih lebih memiliki kecenderungan dalam meraih simpati masyarakat khususnya rakyat kelas bawah. Asal rakyat senang, dengan janji-janji manis, para juru kampanye dnegan lihai mempropagandakan parpolnya masing-masing. Entah rakyat menyadari atau tidak bahwa pesta pora itu juga bukan sebuah keniscayaan jaminan kebahagiaan jika memilih parpol tersebut. Bahwa rakyat juga sudah semakin cerdas dan memhami bahwa pesta pora hiburan rakyat bukan sebuah jaminan, dan mereka juga tidak meminta itu. Toh pesta itu sudah diselenggarakan, apa salahnya jika ikut bersenang-senang? Ikut kampanye bukan berarti nanti memilih partai yang bersangkutan. Entah pula para designer kampanye tahu atau tidak mengenai pandangan rakyat ini. Jika rakyat dianggap cerdas toh sudah semestinya menyelenggarakan kampanye-kampanye cerdas tanpa mengurangi interest dari rakyat. Atau ini pertanda rendahnya daya kreatifitas para jurkam dalam mendesign bentuk-bentuk acara kampanye parpol.

Satu point yang juga perlu mendapat perahatian serius adalah posisi perempuan dalam keterlibatannya di berbagai kampanye. Tidak sudah mendapati bentuk-bentuk kampanye yang menampilkan hiburan rakyat yang mengeksploitasi perempuan sebagai objek hiburan. Kampanye dengan konser tarian erotis nyatanya masih mudah ditemui di berbagai daerah. Selain itu, penggunaan biduan-biduan perempuan sebagai daya tarik, tak beda jika diibaratkan dengan menempatkan perempuan sebagai hidangan pesta. Partai politik yang mengusung pembelaan terhadap hal perempuan-pun pada kenyataannya masih menarapkan hal-hal seperti ini. Proses demokrasi dan pencerdasan seperti apakah yang diciptakan oleh para parpol dengan tetap mengumbar janji-janji manis yang sudah terbukti palsu, bahkan masih di tahap kampanye.
Perempuan baik disadari maupun tidak disadari telah menjadi korban maskulinitas model politik yang merendahkan harga diri seorang perempuan. Ribuan lembar undang-undang pronografi dirancang dengan maksud menghargai nilai kehormatan seorang perempuan hanya menjadi ganjal meja di senayan yang semakin hari semakin timpang.
Demokrasi bangsa ini dalam tahap belajar, dalam proses. Proses yang diharapkan menjadi sebuah alur proses yang menitikberatkan pada proses pembelajaran yang memiliki substansi pada pencerdasan. Kenyataannya yang terjadi adalah pembodohan. Memberikan janji-janji dan kesenangan sesaat pada rakyat. Dalam konteks ini adalah pada perempuan, komponen bangsa yang tidak boleh dipandang sebelah mata. Sampai kapanpun politik akan tetap menjadi sebuah mesin eksploitasi perempuan dan pembodohan rakyat jika dalam praktik-praktiknya masih tak mampu menghargai harkat seorang manusia khususnya perempuan. Rakyat dibeli dengan uang, perempuan dianggap sebagai hidangan.
Pencerdasan rakyat diharapkan selalu menjadi prioritas bagi proses pembelajaran politik bangsa ini. Karena hanya dari sebuah kesadaran kritis yang terbangun dari upaya pencerdasan massa itulah bangsa ini mampu belajar demokrasi yang sehat. Semoga. (nta)

Selengkapnya.....

Gerakan Cerdas Memilih Untuk Representasi Politik Perempuan

Pemilu yang didengung-dengungkan sebagai sebuah pesta demokrasi kian dekat menghampiri kita seperti jadwal yang sudah ditetapkan, 9 April esok. Reaksi rakyat bermacam-macam, dari yang antusias hingga apatis terhadap perhelatan akbar tersebut. Dari kebermacaman reaksi pemilih, klasifikasi pemilih yang berhak memberikan suaranya esok juga bermacam-macam, salah satunya yaitu pemilih perempuan. Sebagai komponen bangsa, perempuan merupakan unsur pemilih yang tak boleh dipandang sebelah mata. Berdasarkan data, pada pemilu 1999 diperkirakan angka pemilih perempuan sekitar 57% dari seluruh pemilih.
Selama ini kerap muncul pandangan pemilih perempuan cenderung sebagai pemilih yang pragmatis. Padahal satu suara itu itu berpengaruh terhadap nasib bangsa ini. Bahkan ketika golput menjadi pilihan, diharapkan juga dapat menjadi sebuah pilihan yang bertanggungjawab, pilihan cerdas yang bukan muncul karena sebatas keterputusasaan atau sikap apatis. Esensi dari pemilih cerdas adalah sebuah sikap yang tidak apatis terhadap apa yang terjadi di negara ini.
Berbicara memilih sebagai sebuah hak tentunya tidak bisa dipelaskan dari jati diri setiap indivisu pemilih tersebut. Pemilih perempuan sebagai sesosok warga negara berjenis kelamin perempuan memang memiliki sebuah karakter khas sama halnya dengan pemilih yang lain (baca : laki-laki). Ada anggapan bahwa dalam membuat sebuah keputusan biasanya perempuan lebih dilandaskan pada perasan dan laki-laki pada logika. Jadi seolah-olah laki-laki adalah makhluk yang logis dan perempuan unlogic. Pada dasarnya akal (logika) bukan sebuah hal yang terpisah dari hati (perasaan). Mungkin yang terjadi laki-laki lebih memiliki kecenderungan dengan porsi logika yang lebih besar dibanding perasaan dan sebaliknya pada perempuan. Ini adalah sebuah hal yang merupakan dua sisi mata uang yang tak dapat kita dikotomikan dengan menganggap yang satu lebih baik. Politik bukan sebuah hal yang “keras” tanpa memperhitungkan hati nurani, dan sebaliknya juga bukan sebuah hal yang “lembut” dan unlogic. Maka “partisipasi logika” dan “partisipasi hati” ini harus memainkan peran yang seimbang, dengan kata lain hak politik perempuan merupakan sebuah keniscayaan yang harus diikutsertakan untuk membangun suasana politik yang dinamis.

Pada awal abad ke-21, lebih dari 95% negara di dunia menjamin hak demokratik mendasar pada perempuan, yakni : hak memilih (right to vote), dan hak untuk dipilih (right to stand for election). Dalam historynya, Selandia Baru adalah negara pertama yang memberikan hak suara pada perempuan pada tahun 1893 dan Finlandia merupakan negara pertama yang mngadopsi dua hak demokratik mendasar tersebut pada tahun 1906. Lima belas abad yang lalu, Muhammad Rasulullah hadir menyampaikan risalah Islam yang membebaskan perempuan dari belenggu-belenggu kejahiliyahan, yang berarti pula perempuan memiliki potensi dasar dalam berbagai urusan termasuk politik.
Politik selama ini dianggap sebuah hal yang “maskulin”. Hal ini wajar jika pada kenyataannya bermula dari dominasi laki-laki yang secara luas mendominasi area politik; laki-laki mendominasi dalam memformulasikan aturan-aturan permainan politik, dan laki-laki pula-lah yang sering mendefinisikan standart evaluasi. Lebih jauh dari itu, model politik maskulin yang kemudian tercipta dimana kehidupan politik sering diatur dengan norma-norma kehidupan laki-laki dan bahkan dalam beberapa kasus juga menurut gaya hidup laki-laki. Sebagai contoh, politik dimainkan atas dasar “pecundang dan pemenang”, kompetitif dan konfrontasi. Akhirnya wajah politik yang hitam yang kemudian lebih dikenal oleh masyarakat.
Maka representasi politik perempuan disini dinilai perlu dalam sebuah dinamisasi percaturan politik sebuah bangsa. Menyuarakan pilihan secara cerdas oleh perempuan disini juga bukan semata-mata pada sebuah “kehadiran” sosok perempuan saja, namun lebih pada esensi pada terciptanya suasana politik yang lebih representatif pada rakyat. Jadi bukan semata-mata “memilih perempuan” namun saat ruang esensial “keterwakilan perempuan” mampu terwujud. Sebagai sebuah proses, logikanya bahwa hal itu mampu terwujud dengan mendongkrak keikutsertaan perempuan dalam parlemen.
Gerakan memilih cerdas merupakan sebuah hal yang perlu ditanamkan, khususnya pada perempuan dengan melihatk konteks saat ini. Jadi pemilih perempuan memiliki bargaining position dalam perhelatan demokrasi bukan sebatas dari tingkat kuanttitasnya saja melainkan dengan kemampuan aktualisasi dirinya dalam ranah politik. Keputusan yang dimiliki pemilih perempuan diharapkan adalah sebuah kesadaran kritis yang muncul sebagai warga negara. Dengan cerdas memilih, pemilih perempuan telah melakukan sebuah upaya humanisasi atas dirinya secara khusus dan pada seluruh rakyat pada umumnya. Sukses Untuk Pemilu Indonesia 2009! (nta).

Selengkapnya.....

Older Posts

Blogger Template by Blogcrowds.