Alternatif Pembelajaran Cybersastra
Sastra dan menulis adalah dua mata koin yang tak dapat dipisahkan. Sebagai sub dari cabang seni yang tertuang dalam wujud tulisan, kemampuan menulis merupakan salah satu syarat dalam berkarya sastra.
Dalam perkembangannya, sastra telah melalui berbagai perputaran roda. Mulai dari sastra klasik, hingga kontenporer. Di era postmo, pemanfaatan media sebagai pemasifan karya sastra menjadi alternatif yang cukup diminati. Perkembangan teknologi tak ayal memiliki pengaruh dalam berkembangnya hal tersebut. Winston churchill yang telah membuktikan kepiawaiannya dalam pidato-pidato melalui radio membuahkan hadiah nobel pada tahun 1940-an. Kemudian berkembanglah pengolahan dan apresiasi sastra melalui berbagai media elektronok. Dapat disebut seperti stasiun NHK di Jepang, stasiun tv BBC Inggris, dan lain sebagainya, hingga kini dikenal juga apresiasi sastra melalui media internet atau disebut juga cybersastra.
Lepas dari kontroversi mengenai cybersastra, pemanfaatan media internet ternyata cukup menarik animo. Namun-jika merujuk pernyataan diatas mengenai keterkaitan berkarya sastra dengan kemampuan menulis-, ternyata tidak semua orang mampu menulis dengan ”baik” dan tidak semua orang punya kesempatan untuk belajar menulis. Ruang dan waktu terkadang menjadi penghalang akan keinginan kuat untuk belajar menjadi penulis handal. Maka selain adanya wadah untuk berekspresi di dunia cybersatra ternyata dirasa perlu juga untuk menghadirkan wadah ”belajar” berkarya sastra yang dalam hal ini adalah belajar menulis.
Situs belajarmenulis.com melihat arti penting dari pembelajaran cybersastra ini. Dipandu oleh penulis yang sudah familiar namanya di dunia tulis menulis (bang Jonru), situs ini mencoba mengakomodir minat para ”makhluk cyber” untuk belajar sastra. Ide ini dirasa briliant dan secara tak langsung ini adalah sebuah upaya meminimalisir kontroversi mengenai cybersastra.
Beberapa sastrawan menganggap cybersastra adalah sebuah tong sampah. Karya-karya dalam cybersastra dirasa juga merupakan karya yang ”ecek-ecek”. Mungkin sebenarnya bukan cybersastra-nya yang ecek-ecek namun banyak hal yang perlu dipelajari terlebih dahulu oleh para makhluk cyber dalam berkaryasastra. Dunia maya yang menghilangkan sekat-sekat selayaknya di sastra koran menjadikan argumen kuat bagi ”pencemooh” cybersastra.
Belajarmenulis.com memiliki peran yang bagus dalam hal pembelajaran cybersastra. Diharapkan pula dari ”lulusan-lulusan” belajarmenulis.com ini dapat menjadikan image cybersastra ini menjadi lebih baik.
Namun ada hal yang perlu diwaspadai juga dalam perkembangan situs pembelajaran ketrampilan menulis ini. Yang perlu dikhawtirkan adalah jika nanti kedepannya akan terjebak dalam kapitalisme sastra. Tidak dapat dinafikan, bahwa motivasi terciptanya situs ini selain untuk memberikan pembelajaran menulis, juga merupakan salah satu usaha bisnis. Its ok, it doesnt matter, perhaps everyone can be understanding. Tapi, pemakluman merupakan suatuh hal kecil yang dapat menyebabkan hal-hal besar. Apalagi jika branding penulis kesohor yang menjadi nilai jual dalam bisnis ini.
Bagaimanapun juga, kemampuan menulis juga dipengaruhi oleh faktor bakat. Semua orang memang bisa menulis, namun tidak semua orang bisa menulis dengan penyatuan kata dan kalimat yang bagus sehingga layak dijadikan bacaan. Tiap orang memiliki idiolek kepenulisan masing-masing. Ada yang piawai merajut puisi, ada yang lihai menguntai fiksi, menyusun karya tulis, ada juga yang sekedar pandai menulis surat atau sekedar bisa menulis jawaban pada saat ujian akhir. Yang kemudian dapat menghasilkan tulisan yang layak baca dan dinikmati adalah yang kemudian pantas mendapatkan predikat penulis. Adanya klaim seseorang menjadi penulis diakomodir oleh penerbit-penerbit atau pihak-pihak yang berkaitan dengan kemampuan menulis itu.
Fenomena yang cukup memprihatinkan sekarang adalah kontoversi antara karya bestseller vs bermutu. Nah, hal ini pula yang perlu diwaspadai oleh belajarmenulis.com, jangan sampai karena pembelajaran di situs tersebut memerlukan dukungan finansial, maka dengan mudahnya memberikan predikat ”sarjana menulis yang cumlaude” pada para lulusannya. Karena opini masyarakat dapat terbentuk oleh pengklaiman yang dilakukan oleh segolongan yang punya pengaruh. Ini hanya sebatas pendapat untuk mewaspadai saja, karena ketika estetika sastra telah dinodai kekuatan modal, maka secara tidak langsung telah melakukan penghinaan terhadap sebuah hasil olah cipta, rasa, dan karsa. Good luck!! Salam budaya, salam sastra!!!











Eko N. Sudjarwo said...
Hallo, Nduk. Pa Kabar? Ikutan lomba review juga ya? Kalo buat review trus dibayar US$ 5-10 mau gak? Cari tahu caranya di sini ya? Trimss...
Salam,
Ecko
Monday, January 14, 2008 4:59:00 AM
Anonymous said...
Halo, kemana aja nih selama ini? Untuk buka account di PayPal kita gak perlu kartu kredit sama sekali. Buktinya ya saya sendiri. Pas diminta no kartu kredit, ga diisi juga jadi koq akunnya. Gimana? Besok baca blogku ya, aku mo posting tentang earningku US$ 69.55 dalam dua minggu ini. Oke? Narsis? Biarin aja.. :p
Salam,
Ecko
Tuesday, January 15, 2008 6:37:00 AM
Eko N. Sudjarwo said...
Email aja, saya dah mau pulang nih. Aalamat emailnya ada di bawah foto saya.
Ecko
Tuesday, January 15, 2008 6:46:00 AM